Para pendukung Skotlandia membuat kunjungan mereka ke Boston menjadi jauh lebih dari sekadar sepak bola, dengan kerumunan besar, perayaan yang terlihat jelas, dan sambutan hangat dari warga setempat membentuk suasana Piala Dunia di kota itu. Laporan BBC menyebutkan bahwa pada saat ditulis belum ada satu pun suporter Skotlandia yang ditangkap di Boston maupun di Providence yang letaknya tidak jauh.
Kehadiran mereka juga terasa di ruang-ruang publik dan acara olahraga setempat. Di Fenway Park, pada pertandingan Boston Red Sox, suasana pengambilalihan oleh para penggemar Skotlandia tampak jelas, termasuk sebuah lamaran yang ditampilkan di layar, beberapa penonton yang berdansa di depan orang lain, dan organist stadion Josh Kantor yang tetap menghidupkan suasana sambil menampilkan tanda “No Scotland No Party”.
Dua hari kemudian, ribuan pendukung Skotlandia kembali untuk Pride Night saat Toronto Blue Jays datang ke kota itu. Ada pula pembicaraan bahwa ribuan orang akan turun ke pertandingan Miami Marlins pekan depan di Florida selatan.
Kisah ini juga meluas melampaui baseball. Wali Kota Boston Michelle Wu mengumumkan pengajuan kota kembar dengan Glasgow, dan ia melakukannya di sebuah pub Skotlandia sambil mengenakan jersey timnas Skotlandia. Laporan itu menempatkan momen tersebut sebagai contoh bagaimana hubungan antarkota bisa ikut dibentuk oleh atmosfer turnamen besar.
BBC juga membandingkan suasana di Boston dengan gelombang dukungan Skotlandia di Bavaria dua tahun lalu. Saat itu, area Marienplatz dipenuhi banyak suporter Skotlandia, dan mereka kembali dipuji karena perilaku, kemurahan hati, dan cara mereka berbicara dan bercanda.
Meski demikian, sepak bola tetap menjadi latar yang bisa mengubah suasana pesta kapan saja. Laporan itu menyoroti bahwa tim di lapangan telah membantu menjaga euforia tetap menyala, dan satu poin melawan Maroko pada hari Jumat bisa memicu perayaan besar yang kembali membanjiri Boston. Liputan tersebut juga menyinggung bahwa ini adalah penampilan pertama Skotlandia di Piala Dunia dalam 28 tahun, dengan pertandingan melawan Haiti sebagai laga pembuka dan Maroko sebagai laga berikutnya.
Pada akhirnya, Boston menjadi tempat pertemuan budaya yang hangat bagi para suporter Skotlandia. Selama hampir sepekan, mereka seolah menguasai kota itu, dan kini Boston menjadi ruang bagi banyak negara untuk saling berbagi suasana di salah satu tempat paling ramah yang mereka harapkan di tepi Sungai Charles. Kalau Skotlandia nanti lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, mereka bahkan bisa kembali lagi ke sana.


Diskusi
Masuk untuk bergabung dalam diskusi.
Masuk / Daftar