World CupAustralia -- Egypt18:00World CupArgentina -- Cape Verde Islands22:00World CupColombia -- Ghana01:30World CupCanada -- Morocco17:00World CupParaguay -- France21:00World CupBrazil -- Norway20:00World CupMexico -- England00:00World CupPortugal -- Spain19:00World CupUSA -- Belgium00:00Super LeagueYunnan Yukun 21 Henan JianyeFTWorld CupSwitzerland 20 AlgeriaFTWorld CupPortugal 21 CroatiaFTWorld CupSpain 30 AustriaFTWorld CupUSA 20 Bosnia & HerzegovinaFTWorld CupAustralia -- Egypt18:00World CupArgentina -- Cape Verde Islands22:00World CupColombia -- Ghana01:30World CupCanada -- Morocco17:00World CupParaguay -- France21:00World CupBrazil -- Norway20:00World CupMexico -- England00:00World CupPortugal -- Spain19:00World CupUSA -- Belgium00:00Super LeagueYunnan Yukun 21 Henan JianyeFTWorld CupSwitzerland 20 AlgeriaFTWorld CupPortugal 21 CroatiaFTWorld CupSpain 30 AustriaFTWorld CupUSA 20 Bosnia & HerzegovinaFT
Kembali ke berita
Sepak Bola

Penderitaan panas Irlandia di Piala Dunia 1994 atas Meksiko masih menjadi acuan debat keselamatan

Mantan pemain Republik Irlandia meninjau kembali kondisi ekstrem saat laga Piala Dunia 1994 melawan Meksiko di Orlando, ketika suhu mencapai 43 derajat Celsius dan aturan hidrasi masih jauh dari standar turnamen modern.

Penderitaan panas Irlandia di Piala Dunia 1994 atas Meksiko masih menjadi acuan debat keselamatan
Kredit gambar: theguardian.com

Laga Grup Piala Dunia 1994 antara Republik Irlandia dan Meksiko dimainkan dalam panas ekstrem 43 derajat Celsius di Citrus Bowl, Orlando, dan kemudian menjadi salah satu rujukan paling sering dibahas soal keselamatan pemain. Kesaksian Jason McAteer dan John Aldridge menunjukkan betapa terbatasnya akses minum dan aturan pergantian pemain saat itu membuat kondisi terasa sangat berat.

Pertandingan itu digelar setelah kemenangan Irlandia atas Italia dan dimulai pada jam makan siang, dengan sedikit sekali naungan di dalam stadion. Sumber menyebut lebih dari 100 penonton dilaporkan pingsan akibat tekanan panas, sementara para pemain harus mengandalkan cara pendinginan seadanya alih-alih jeda hidrasi formal yang kini umum di sepak bola elite.

Aturan FIFA saat itu belum mencakup jeda minum resmi, dan air botol juga sempat dilarang di lapangan sebelum ada penyesuaian pada menit terakhir yang memungkinkan air disalurkan dengan bentuk berbeda. Dengan hanya dua pemain cadangan yang diizinkan, sebagian besar pemain dari kedua tim tetap harus menyelesaikan laga penuh meski kondisinya sangat berat.

Artikel ini juga mengaitkan pengalaman 1994 itu dengan kekhawatiran terhadap panas pada Piala Dunia saat ini, khususnya di venue terbuka di sejumlah bagian Amerika Serikat. Pandangan McAteer adalah bahwa perlindungan pemain sekarang jauh lebih baik, tetapi perbandingan itu memunculkan pertanyaan yang akrab bagi penyelenggara turnamen: seberapa jauh jadwal dan kondisi stadion harus diubah ketika panas sudah menjadi risiko kesehatan?

Sumber & hak cipta

Artikel ini tidak menyalin sumber mana pun secara utuh. Disusun dari fakta publik dan kerja redaksi; tautan asli milik penulisnya.

Sumber publik

Artikel ini mungkin menggunakan AI untuk ringkasan, terjemahan, atau bantuan SEO, dan ditinjau oleh editor sebelum diterbitkan.

Diskusi

    Bacaan terkait

    Berita
    Kroasia gagal mendapat gol penyama di menit akhir setelah keputusan offside VAR melawan Portugal
    Redaksi1 mnt
    Berita
    Dua gol Kane antarkan Inggris ke duel 16 besar melawan Meksiko
    Redaksi1 mnt
    Berita
    Belgia selamat dari ancaman Senegal lewat penalti telat Tielemans
    Redaksi1 mnt
    Berita
    Kebangkitan Inggris menutupi pertanyaan defensif jelang ujian melawan Meksiko
    Redaksi1 mnt
    Irlandia vs Meksiko 1994: Panas 43°C dan perdebatan keselamatan Piala Dunia | ScoreGale